Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SuperLengkap!!! Download KMA Nomor 183 Tahun 2019

Download KMA Nomor 183 Tahun 2019 - Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah menggantikan KMA No. 165 tahun 2014 tentang pedoman Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Mengutip dari bab I lampiran  Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 183 Tahun 2019 Tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan bahasa Arab pada madrasah sebagai berikut:

KMA 183 TAHUN 2019


Pengertian Kurikulum

Pengertian Kurikulum Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 

Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama yaitu rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran. Sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk penyelenggaraan pembelajaran. 

Madrasah merupakan sekolah umum berciri khas agama Islam. Kekhasan madrasah bukan saja pada jumlah mata pelajaran agama Islam yang lebih banyak dari yang ada di sekolah. Lebih dari itu kekhasan madrasah adalah tata nilai yang menjiwai proses pendidikan pada madrasah yang berorientasi pada pengamalan ajaran agama Islam yang moderat dan holistik, berdimensi ibadah, berorientasi duniawi sekaligus ukhrawi sebagaimana telah terejawantahkan dalam kehidupan bangsa Indonesia.  

Rasional Pengembangan Kurikulum

Rasional Pengembangan Kurikulum PAI dan Bahasa Arab Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada madrasah dikembangkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut: 

a. Tantangan Internal 

1) Pendidikan Agama Islam 

Tantangan internal dalam pengembangan kurikulum PAI adalah: 

  • (a) belum tercapainya secara masif tujuan pendidikan khususnya beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,
  • (b) pembelajaran PAI secara umum masih pada tataran pengetahuan belum menjadikan agama sebagai jalan hidup untuk menuntun peserta didik saleh spiritual dan saleh sosial. Di sisi lain, kecenderungan pola kehidupan berbangsa dan beragama yang ekstrim-tekstualis dan skuler-liberalis telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dan dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengamalan agama sebatas simbol-simbol yang kurang menyentuh subtansi agama sehingga nilai-nilai agama tidak menjadi dasar dalam cara berfikir, bersikap dan bertindak pada kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan tantangan ini, pembelajaran PAI harus mampu membekali peserta didik agar memiliki cara pandang keberagamaan yang moderat, inklusif, toleran dan bersikap religius-holistik integratif yang berorientasi kesejahteraan duniawi sekaligus kebahagiaan ukhrawi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan kepada Pancasila, UUD 1945 dan ber-Bhinneka Tunggal Eka.  
2) Bahasa Arab
Tantangan internal dalam pengembangan kurikulum Bahasa Arab antara lain: 
  • (a) pembelajaran Bahasa Arab di madrasah masih cenderung strukturalistik, kurang fungsional dan kurang komunikatif. Perlu dikembangkan pembelajaran Bahasa Arab yang tidak berhenti pada kaidah Bahasa Arab akan tetapi juga pada keterampilan berbahasa Arab, 
  • (b) Bahasa Arab memiliki peran yang penting sebagai alat memahami ajaran-ajaran agama Islam dari sumber otentiknya berbahasa Arab yang merujuk kepada alQuran dan Hadis, 
  • (c) penguasaan Bahasa Arab yang kurang, di samping menimbulkan kesalahpemahaman terhadap kitab suci, juga menurunkan minat mempelajari agama Islam dari sumber otentiknya seiring dengan kemudahan mengakses konten agama Islam secara instan melalui internet, media sosial dan kemajuan dunia teknologi informasi lainnya. Karena itu kurikulum Bahasa Arab harus lebih mendalam dan meluas sehingga cukup membekali kompetensi literasi peserta didik. Secara konten dan penyajiannya dituntut bagaimana pembelajaran bahasa Arab disajikan dalam sistem yang komunikatif, ekspresif, fungsional, inspiratif, dan menantang, sehingga bahasa Arab dipersepsikan sebagai bahasa yang mudah dan menyenangkan namun tidak terlepas dari konteks budaya ke-Indonesiaan

b. Tantangan Eksternal 

1) Pendidikan Agama Islam
 
Tantangan eksternal pengembangan kurikulum PAI adalah: 
  • (a) Semakin menguatnya faham transnasional yang berpotensi menggeser cara beragama khas Indonesia yang moderat, toleran dan membudaya. Karena itu pengembangan kurikulum dan pembelajaran PAI harus berbasis kepada pembiasaan, pembudayaan dan pemberdayaan untuk membentuk peradaban bangsa. Dengan demikian, budaya dijadikan sebagai instrumen penguat agama Islam dan nilai-nilai agama Islam akan memperkaya budaya bangsa. PAI harus juga menjadi instrumen perekat kehidupan sosial yang majemuk dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam konteks kehidupan global, 
  • (b) isu yang terkait dengan lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, serta semakin terbukanya akses pendidikan secara global. (3) Era disrupsi yang memiliki ciri uncertainty (ketidakpastian), complexity (kerumitan), fluctuity (fluktuasi), ambiguity (kemenduaan) berdampak terhadap kehidupan manusia. Era ini mempengaruhi kehidupan manusia untuk dapat melakukan upaya penyesuaian yang cepat terhadap setiap perubahan kehidupan secara mendasar. Karena itu, madrasah harus dapat menyiapkan peserta didik yang memiliki empat kompetensi generik 4 C (critical thinking, creativity, communication and collaboration) dan memiliki budaya literasi yang tinggi. Dengan demikian maka kurikulum dan pembelajaran PAI dituntut mampu mengadaptasi perkembangan dunia modern sehingga berdaya saing tinggi, namun tetap berkarakter religius-holistk integratif sehingga mampu mebentengi moral generasi bangsa dari pengaruh globalisasi yang buruk.
2) Bahasa Arab 

Tantangan eksternal pengembangan kurikulum Bahasa Arab adalah: 
(1) Bahasa Arab sebagai bahasa internasional saat ini juga mengalami perubahan yang cepat dan cenderung beragam, sehingga kecenderungan Bahasa Arab dengan pola fushha (baku) sudah bergeser dengan pola amiyah (bahasa pasaran). Dengan visi Indonesia sebagai pusat studi agama Islam dunia maka pengembangan kurikulum Bahasa Arab harus dapat merespon kecenderungan tersebut, dengan mengorientasikan pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya fushha namun juga dengan pola amiyah yang komunikatif-fungsional sehingga dapat berperan dalam percaturan dunia global. 

(2) Penutur Bahasa Arab lambat laun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Lebih dari 60 negara dan 350 juta orang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Bahasa Arab tidak saja dijadikan sebagai bahasa "studi agama" akan tetapi juga dipakai sebagai bahasa ekonomi, pariwisata, politik dan keamanan global. 

(3) Kemajuan teknologi informasi dalam menyediakan konten agama Islam secara instan menimbulkan kecenderungan rendahnya minat generasi muda menggali ilmu agama Islam dari sumber otentik yang pada umumnya berbahasa Arab. Karena itu kurikulum Bahasa Arab juga dituntut dapat memotivasi dan membekali kemampuan peserta didik dalam ber-Bahasa Arab untuk mendalami ajaran agama Islam dari sumber otentiknya. 

3. Penyempurnaan Pola Pikir 

Pengembangan kurikulum PAI dan Bahasa Arab di madrasah dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir sebagai berikut: 
  • a. Penguatan pola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus difasilitasi untuk dapat belajar sesuai karakteristiknya sehingga memiliki pilihan-pilihan terhadap materi, media, metode pembelajaran dan learning style (gaya belajar) untuk mencapai kompetensi yang dibutuhkan; 
  • b. Penguatan pola pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/ media lainnya) , yang diikat dengan hubungan simbiosis mutualisme, saling menyayangi dan tolong menolong dalam kebaikan untuk menggapai ridha Allah SWT; 
  • c. Penguatan pola pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet); 
  • d. Penguatan pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan pendekatan pembelajaran saintifik); 
  • e. Penguatan pola belajar sendiri dan kelompok (berbasis tim) guna memperkuat kemampuan kolaboratif peserta didik; 
  • f. Penguatan pembelajaran berbasis multimedia, sebagai basis penguatan literasi media peserta didik; 
  • g. Penguatan pola pembelajaran berbasis klasikal-massal dengan tetap memperhatikan pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik; 
  • h. Penguatan pola pembelajaran multidiciplines (ilmu pengetahuan jamak); 
  • i. Penguatan pola pembelajaran kritis dan solutif; 
  • j. Penguatan pola pengkondisian suasana kebatinan peserta didik yang memungkinkan peserta didik dapat menerima, merasa dan menghayati ajaran agama sehingga memunculkan kemauan kuat untuk merubah diri sesuai ajaran yang diterimanya. Pengkondisian dilakukan dengan upaya membersihkan diri dari akhlak tercela dan menanamkan akhak mulia ke dalam jiwa peserta didik; dan k. Penguatan pola pembelajaran religius dengan menjadikan nilai-nilai akhlak dan agama Islam yang moderat sebagai inspirasi cara berfikir, cara bersikap dan bertindak pada proses pembelajaran. Di samping itu, nilai-nilai agama Islam dijadikan sebagai pengikat pola hubungan guru-perta didik, sehingga hubungan guru-peserta didik bukan hubungan transaksional-materialistik. Hubungan guru-peseta didik adalah hubungan yang diikat mahabbah fillah (kasih sayang dalam kebersamaan saling membantu) sebagai ibadah untuk secara bersama (guru-peserta didik) menuju ridha Allah SWT. 
Untuk memahami secara utuh tentang KMA 183 Tahun 2019 silahkan download Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah menggantikan KMA No. 165 tahun 2014 tentang pedoman Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

Posting Komentar untuk "SuperLengkap!!! Download KMA Nomor 183 Tahun 2019"